Pengawas Pendamping Ujian Universitas Terbuka

Terkejut sekali ketika ku dapati seorang peserta ujian mengeluarkan modul setebal 7 sentimeter itu ketika ku lihat ia malah balik melihatku, sembari senyum malu dan membenarkan posisi duduknya dengan tetap memegang modul besar itu. Tubuhku meriang seketika antara kasihan dan tidak ku lakukan hal yang belum bisa dipraktikan dengan benar oleh para pengawas ujian—menertibkan.
Kugunakan jariku untuk mengisyaratkan “masukkan modulnya!”, dengan raut wajah yang kubuat “sangar” ini. Dan, ku selesaikan lima-enam kalimat dalam The Scarlet Letter yang aku baca ini. Kudatangi terdakwa itu dengan maksud ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi.
Aku sempat tak bisa berkata banyak, ketika peserta lain yang duduk tepat di belakangnya menyibakkan kertas soal ujian, dan rupanya ia juga menyimpan “pusakanya” di sana.
“Mbak, tolong tasnya taruh depan..” nadaku mengeras.
“Sama modulnya mas?” salah seorang menimpali. Aku hanya mematung—menjaga wibawa pikirku.
“Kelas lain tidak apa-apa sih, seperti itu,” tambah yang lain. Aku tetap tak terhenyak. Kuraih tas mereka satu persatu dan telah lengkap semuanya kuletakkan di meja kosong paling depan. Sebuah kecerobohan berbahaya meninggalkan peserta dan tasnya di belakang, pikirku galau. Lalu ku ambil lagi novel yang selama setengah semester ini memusingkanku, The Scarlet Letter dan bingungnya Hester Pryne.
Dua hari sebelumnya, aku tak menyangka ditawari untuk menjadi pengawas ujian UT. Bukan besarnya “uang transport” yang aku pikirkan, tetapi yang namanya tugas adalah tugas. Aku rasa, hal ini yang membuat aku berbeda dengan pengawas—mahasiswa—lainnya, aku mulai bersyukur.
“Bet, kamu mau ga jadi pengawas ujian UT?” cerocos lelaki setengah tambun berkacamata yang ku kenal sebagai Wakil Dekan bidang Kemahasiswaan itu.
“Bisa pak..” tanpa pikir panjang aku jawab.
Sehari kemudian acara pengarahan di Gedung Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pekalongan diadakan. Sebanyak 35 mahasiswa Universitas Pekalongan dimintai bantuan untuk menjadi pengawas pendamping, dan kami dibagi dalam tiga hari kerja, minggu 4 Desember hingga Senin 6 Desember 2010. Jatahuku telah rampung 5 dan 6 Desember lalu.
Hal yang dapat kita pelajari bahwa, kadang kita memandang sebuah kejelekan yang kita lakukan masih lumayan dibandingkan dengan yang orang lain lakukan. Mau bagaimanapun, pencontekan menjadi sebuah hal yang dapat meruntuhkan kualitas bangsa. Lihat saja bagaimana sumbu picu mencontek ini telah tercium apinya, maka tak akan berhenti selama sistem masih mendukungnya. Dapat anda bayangkan yang melakukan pencontekan itu adalah oknum calon guru?
Pikirkan saja, ilmu ini akan kita pertanggungjawabkan kepada Tuhan, bukan kepada manusia.


Pengawas Pendamping Ujian Universitas Terbuka Pengawas Pendamping Ujian Universitas Terbuka Reviewed by Ubet Zubaidi on 15:45 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.