WAYANG BAGAL: MANIFESTASI EDUKASI YANG TERLUPAKAN (Makalah)

BAB I
PANDAHULUAN



Pendidikan, adalah hal yang mutlak diperlukan oleh manusia untuk menjalani hidupnya. Namun agaknya hal itu tidak disadari, dan baru setelah penjajahan Kolonial Belanda, pada masa Kebangkitan Nasional 1908 pendidikan menjadi sebuah harga mahal yang harus didapatkan bangsa Indonesia, walaupun dengan dalih pekerja rendahan upah minimum melalui Ethische Politiek (Politik Etis/Politik Balas Budi). Seiring dengan hal itu, muncullah cendikia dan Dewantara-Dewantara lain di Indonesia, mulailah bergeliat pendidikan Indonesia.
Kita hanya berkaca pada pendidikan formal, tetapi jika kita melakukan  flash back sebelum datangnya titik terang Politik Etis, bagaimana pendidikan pada masa sebelumnya?
Melalui judul Wayang Bagal, Manifestasi Edukasi yang  Terlupakan, penyusun berusaha menampilkan pendidikan yang secara nyata terdapat dalam seni pertunjukan wayang, dan apa itu wayang bagal, dan bagaimana dapat dijadikan sebagai media pembelajaran.
Perlu kita ingat, bahwa pendidikan bukan sekedar mengetik sepuluh jari dengan computer, melihat sorotan LCD proyektor, maupun menggunakan video conferencing, tetapi hal yang sangat urgen yang belum diketahui adalah peran imajinasi dalam penimbulan kecerdasan secara fragmatif, dan penyatuannya secara kontinuatif akan lebih dapat menimbulkan hasil yang optimal, disamping anak dapat mencintai budaya sendiri, dan tentu saja hal ini akan berpengaruh besar pada masa pertumbuhan awal.
Makalah ini mencoba untuk menyibak metode edukatif yang digunakan pada zaman sebelum pendidikan formal berupa sekolah diterapkan, dan makalah ini dapat dijadikan sebagai bahan pertimbangan pemilihan metode pengajaran yang tepat dalam kaitannya dengan calon pengajar dari fakultas keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pekalongan.
Selain digunakan sebagai pemenuhan tugas mata kuliah bahasa Indonesia, makalah ini diharapkan untuk menjadi perbendaharaan pengajaran secara metodik yang nantinya dapat digunakan untuk membimbing dan mengarahkan peserta didik untuk lebih baik.
Dan, penyusun berharap, makalah ini akan memberikan manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan, terutama pengembangan sumber daya pengajar di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Pekalongan.


BAB II
PEMBAHASAN




1.      METODOLOGI EDUKATIF MASA SILAM

Pembelajaran yang selama ini kita jalani hanya tersiklus pada sekolah dan rumah, bagaimna halnya dengan pengajaran yang dilakukan sebelum kedatangan system pendidikan Barat?
Hakikatnya, bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar, banyak sekali ragam budaya dan adapt yang melingkupinya. Dalam makalah ini akan dipersempit pembahasan pada masyarakat Jawa pada era silam, yaitu sebelum Politik Etis yang menandakan pendidikan modern.
Manifestasi pendidikan masa itu dapat kita kelompokkan dalam beberapa bahasan, antara lain:
1.         Nyantrik
            Secara pengertian nyantik di sini berarti seseorang yang tinggal di suatu tempat bersama guru, yang kerjanya untuk membantu guru, dan kadangkala menerima wejangan dari gurunya. Merupakan murid pendeta atau orang yang pandai, berperan juga sebagai pelayan.
2.         Ulah kanuragan
            Hal ini lebih bersifat kepada pengajaran, biasanya yang diajarkan adalah ilmu kesaktian, dan bela diri, semacam pencak silat, tenaga dalam, dan lain-lain.
3.         Pesantren
            Pada perkembangan selanjutnya, setelah masuknya Islam, istilah nyantrik mengalami transformasi bentuk menjadi nyantri pelakunya disebut santri, dan tempat belajarnya dinamakan pesantren.
            Pesantren adalah tempat yang secara khusus mengajarkan ilmu-ilmu agama, dan juga tidak jarang disertai bela diri. Transformasi pengertian ini secara nyata merubah pola pengajaran lebih kepada keintensifan yang menjadikan mentalitas santri lebih terbentuk.
4.         Wayang dan kebudayaan lain
            Sebagai salah satu dari sepuluh kebudayaan asli bangsa Indonesia, seni pertunjukan wayang menjadi semakin akrab dengan mayarakat yang pada perkembangnnya dijadikan sebagai media dakwah Islam oleh Sunan Kalijaga.
            Dalam kaitannya dakwah (berseru, memberi pengertian), wayang menjadi sarana untuk pengenalan penonton lewat ujaran dalang terhadap materi keagamaan yang dibalut leswat cerita nan mempesona, sehingga secara kunak menginjeksi pola pikir masyarakat secara sedikit demi sedikit dan selanjutnya melakukan mobilisasi pemikiran secara 180 derajat menuju yang diharapkan.
            Disamping itu, kebudayaan seperti lagu-lagu jawa merupakan manifestasi lain dari pendidikan yang secara implisit terkandung dalam  syair yang penuh makna. Hal yang menjadi landasan adalah kesennian wayang maupun lagu-lagu ini adalah hal yang dekat dengan masyarakat dan seyogianya kita manfaatkan sebagai media pendidikan, dalam jangka panjang.
            Tarian, juga bentuk kesenian lain pada hakikatnya mengandung nilai-nilai luhur yang apabila kita cermati akan bermanfat nagi pengembangan prbadi manusia.
Secara riil wujud kebudayaan wayang adalah media yang dapat dinikmati oleh semua kalangan, tidak hanya terbatas pada santri, maupun cantrik, tetapi lebih luas, dan mengandung nilai yang apabila diadopsi akan menciptakan pola pikir yang baik, sebagaimana konsep wayang; tontonan dan tuntunan.

2.      WAYANG BAGAL SEBAGAI MANIFESTASI EDUKASI

Ingatan fotografis adalah suatu fenomena khusus di mana orang bisa mengingat (biasaanya dalam jangka waktu yang singkat) secara sempurna dan tepat apa yang mereka lihat. Ingatan ini biasanya memudar, namun bisa sedemikian tepat sehingga memungkinkan seseorang (misalnya setelah melihat gambar yang berisi 1000 titik yang ditempatkan secara acak di sebuah lembaran kertas) untuk mengambarkan kembali dengan sempurna. Hal ini menunjukan bahwa disamping kemampuan penyimpanan jangka panjang, kita juga memiliki kemampuan penyimpanan fotografis jangka pendek. Di dalam hal ini bisa dikatakan anak-anak seringkali memiliki kemampuan ini sebagai bagian dari fungsi mental mereka, namun kita kurang melatihnya karena terlalu mengonsentrasikan pada logika dan bahasa, bukan pada imajinasi dan kemampuan-kemampuan mental lainnya.


DAFTAR SUMBER

Kamus Besar Bahasa Indonesia
Lucas, Bill. 2008. Senam Otak Kanan. Bandung: Jabal
Guntar, Akhmad. 10 Fakta Menarik Tentang Potensi Otak. http://bloomlaboratory.com/10-fakta-menarik-tentang-potensi-otak.html. (diakses tanggal 30 April 2009)
Sugarman, Yuyuk. Murid SD Belajar Budi Pekerti Lewat Pelajaran Wayang. http://www.sinarharapan.co.id/berita/0503/19/sh05.html (diakses tanggal 30 April 2009)

*(dikumpulkan sebagai tugas Mata Kuliah Bahasa Indonesia)
WAYANG BAGAL: MANIFESTASI EDUKASI YANG TERLUPAKAN (Makalah) WAYANG BAGAL: MANIFESTASI EDUKASI YANG TERLUPAKAN (Makalah) Reviewed by Ubet Zubaidi on 14:59 Rating: 5

No comments:

Powered by Blogger.